Kamis, 07 September 2017

Hanya Dia

“Hanya Dia”







Lihatlah kesana
Pandanglah dari kejauhan
Apakah itu dia?
Dia yang selalu menjadi penyemangatku?
Dia yang selalu bersamaku setiap sore?
Dia yang selalu bersamaku melihat terbenamnya matahari?
Ku pendam keinginanku
Untuk memersatukan hatiku dengannya
Ku pendam keinginanku
Untuk  melihat sepasang mata yang tajam
Namun hangat akan sinar matanya yang terpancar
Sepasang mata yang terus menumbuhkan semangatku
Namun apalah daya
Aku sudah tak mampu bersamanya
Meraih impian yang belum nyata
Mungkin
Ia sudah melupakanku
Untuk selamanya
Berjalan dengan lunglai
Melewati beberapa pematangan sawah
Yang begitu terjalnya
Mengikuti aliran sungai
Yang berliku-liku
Sambil mendengar suara arus sungai
Yang bergerumuh
Apakah itu bisa membuatku melupakannya?
Apakah itu bisa membuang semua angan-anganku bersamanya?
Sepertinya
Tidak
Aku tidak bisa melupakannya begitu saja
Ia salah satu insan manusia
Yang begitu sempurna di mataku
Dia telah menjadi penyemangat di dalam jiwaku
Dia telah menjadi penerang lubuk hatiku
Namun
Tiba-tiba
Ada satu suara memangilku
Apakah itu dia?
Apakah dia yang kurindukan?
Benarkah dia?
Aku menengok bersamaan dengan desiran angin
Angin yang berhembus sepoi-sepoi
Mengenai wajahku
Apakah itu dia?
Apakah dia tidak melupakanku?
Apakah ini hanya mimpi?
Meski aku tidak yakin bahwa itu ia
Namun
Senyum itu
Lesung pipi itu
Membuat ku yakin
Bahwa itu ia
Membuatku menggapai kembali semua angan-angan
Yang telah kubuang jauh
Di sana

2 komentar: